Blogumulus by Roy Tanck and Amanda FazaniDistributed by CahayaBiru.com

DEMI JABATAN DAN HARTA

Rabu, 09 Februari 2011

Begitu memasuki kamar tidur dimana aku menginap disebuah dusun terpencil, segera kutelanjangi isteriku dan merebahkannya ke atas ranjang. Dia dalam keadaan setengah sadar ketika ku baringkan diranjang kuno milik Pak Renggo guru spranatural itu, tapi masih tetap dapat menjaga kesadarannya.

“Sayang, aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat aku mempunyai jabatan terhormat ditempat kubekerja, makanya malam ini aku akan mempersembahkan kehangatan tubuhmu pada guruku sebagai balas jasa, itulah syaratnya yang harus kupenuhi. Apa kamu bersedia?” tanyaku begitu berada di atas ranjang.

“Aku bersedia” jawabnya segera dengan desahan menahan birahi yang mulai melanda tubuhnya. Pengaruh ramuan yang diminum Shinta membuat diriku mudah mewujudkan rencanaku.

*****

Shinta istriku, mempunyai tinggi dan berat badan yang sedang-sedang saja. Payudaranya tak bisa dikatakan besar tapi putingnya adalah sebuah puting susu terbesar dari semua wanita yang pernah kukenal saat dia sedang bergairah. Shinta seorang wanita yang pemalu, kecuali jika sedang berada di dalam kamar cinta kami.


Setelah lebih dari lima tahun dalam kehidupan rumah tangga kami, aku sering berbisik di telinganya ditengah percintaan kami sambil kumainkan klitorisnya, dan mengatakan padanya tentang keinginanku untuk mendapatkan posisi penting di BUMN tempat kubekerja. Dan untuk beberapa bulan terakhir ini, aku mulai menceritakan niatku tersebut kepadanya saat kami sedang bercinta.


Hingga sampailah pada saat yang paling membuat jantungku berdebar… untuk menanyakan kepadanya apakah dia mau membuat semua keinginanku itu menjadi nyata. Tentu saja kutanyakan hal ini saat kami sedang bercinta, dan dia menjawab ya dalam erangannya. Akhirnya minggu kemarin itu semua menjadi kenyataan.

Setelah pencarian dalam beberapa minggu dalam dunia klenik, akhirnya kutemukankan seorang guru supranatural yang kuanggap memenuhi semua persyaratanku yang mampu untuk membuatku menjadi orang nomor satu di instansiku, kubuat janji untuk bertemu langsung dengannya di tempat kediamannya disebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian, bersama isteri aku mengunjungi rumah kediaman pak renggo, Aku langsung merasa takjub dengan kemampuan mistisnya, begitu pertama kali pak renggo mendemonstrasikan ilmunya yang bisa melihat wajah wajah teman sekantorku yang sering merendahkan dan menghina diriku, Air didalam baskom yang tadinya tenang menampakan wajah wajah mereka kini beriak menggelegak mengepulkan asap.

Akhirnya aku merasa pasti dengan pak renggo, kami langsung ke pokok permasalahan, bagaimana aku dapat merubah nasib dengan menuntut suatu ilmu yang akan membuat diriku mempunyai kedudukan tinggi dan tidak lagi menjadi pegawai rendahan. Akhirnya secara terus terang kukatakan pada pak renggo tentang syarat yang harus kupenuhi, pak renggo lalu mengajak ku masuk kedalam kamarnya untuk membicarakan syarat tersebut secara rahasia. ternyata syaratnya begitu berat, pak renggo ingin mencicipi kehangatan tubuh isteriku, permintaan pak renggo tersebut sempat membuat jiwaku terguncang, namun sudah kepalang basah kupenuhi juga permintaan pak renggo .Aku harus rela isteriku disetubuhi oleh lelaki tua yang berusia 58 tahun itu.

Aku minta sekali lagi keringanan pada pak renggo, mungkin ada syarat lain tanpa harus mengorbankan tubuh isteriku kepadanya, namun pak renggo dengan pasti menjelaskan padaku hanya dengan cara begitu aku akan menerima ilmunya, dengan perantara tubuh isteriku setelah disetubuhi olehnya. Ilmunya akan ditransfer secara ghaib kedalam tubuh isteriku, dan apabila aku melakukan senggama dengan Shinta setelah dia setubuhi, dengan sendirinya ilmu pak renggo akan merasuk kedalam batinku. Lalu ku rundingkan pada Shinta tentang hal persyaratan yang diajukan pak renggo itu. Shinta menolak tentang syarat itu, yang dianggapnya tidak masuk akal. Namun dari mimik wajah isteriku tampak seolah menyetujui, demi cinta kasihnya kepadaku tawaran itu membuatnya merasa jengah dan ragu.

Kukembalikan semuanya pada pak renggo, bagaimana caranya agar dapat mempengaruhi isteriku. Pak renggo berbisik padaku, gampang itu mas Ardi, aku mempunyai persedian ramuan pembangkit birahi, maka akan kuberikan pada isterimu. Agar isteri mas Ardi tidak curiga aku membawakan dua cawan minuman dan yang satu untuk mas Ardi yang satu lagi buat isterimu, hanya itulah jalan keluarnya. Lalu aku pun mengangguk setuju kepada Pak Renggo. Tanpa curiga isteriku meminumnya karena pak renggo mengatakan minuman itu adalah jamu tradisional warisan leluhur untuk membuat tubuh menjadi segar.

Rencananya adalah membuat isteriku mabuk dan terangsang, tapi tidak terlalu mabuk, sebab dalam ramuan itu hanya membuat orang setengah flay dan terangsang, itu kata pak renggo. Setelah istriku mengkonsumsi ramuan itu libidonya jadi melonjak tinggi, dan isteriku mulai nampak bebas berbicara tanpa malu malu lagi. Kami mengatur dimana isteriku tidak seperti dipaksa ini harus menjadi sebuah kepasrahan tanpa paksaan. Dalam keadaan setengah mabuk isteriku memanggil namaku…mas maaas Ardi, kenapa tubuhku rasanya panas mas, Oooh mas aku gak tahan mas pelukin aku maaaas. Lalu kubaringkan isteriku diranjang yang berkasur empuk.

Kemudian aku memakaikan penutup mata padanya agar dia tak dapat melihat.

Dan lalu kuikatkan kedua tangannya pada tiang tempat tidur. Tak usah dikatakan lagi, sebuah lenguhan lirih langsung terdengar dari mulutnya. Tapi dia tak tahu apa yang akan kulakukan terhadapnya. “ Maaas koq aku di ikat begini mas”.

“Aku akan memijatmu sayang dengan cara yang berbeda dari biasanya” Shinta selalu menyukainya pijatanku. “Aku kemudian memijati tubuh isteriku dengan baby oil yang selalu ada dalam tas isteriku itu.

Aku keluar dari kamar dan langsung pergi menghampiri Pak renggo. Pak renggo dapat melihat kalau aku juga telah setuju dengan perjanjian tadi. Kami berdua kembali ke kamar . Pak renggo terkejut saat dia melihat istriku terikat pada ranjang dengan kedua matanya terikat sapu tangan sebagai kain penutup.

Aku dan pak renggo sudah sepakat kalau dia tidak akan bicara sebelum kuperintahkan. “Sayaaaang, apa kamu juga mau memakai pelicin?” tanyaku.

“Oh, ya. Boleh juga” bisiknya pelan dengan tetap mendesah.

Dan kusodorkan pelicin itu kepada pak renggo. Kuberi dia isyarat agar melumurkannya pada payudara Shinta. Aku tak perlu memerintahkannya dua kali. Dituangkannya pelicin itu di seluruh gundukan daging payudara istriku dengan kedua tangannya dengan penuh perasaan. Segera saja puting payudara Shinta mengeras. “ Ouuuughhh mas enaaaak maaaaas ” .

Dia mulai mengerang hebat “Sentuh vaginaku maaaas” perintahnya. Pak renggo menatapku dan aku mengisyaratkan padanya agar dia melakukan apa yang diinginkan oleh istriku. Dituangkannya banyak pelicin pada vagina istriku. Saat lelaki tua itu melakukan hal itu, istriku melenguh hebat. Pak renggo mulai menyentuh kelentitnya dan suara erangan istriku semakin bertambah keras saja. Aku berdiri tepat di tepi ranjang dan dapat kusaksikan semua yang dilakukan pak renggo terhadap istriku. Dan kemudian hal itu terjadi. Pak renggo menusukkan jari tengahnya masuk ke dalam vagina Shinta yang basah. Kulihat punggung Shinta terangkat dari atas kasur dan erangannya semakin keras terdengar… Setelah sepuluh menit, dia melenguh keras “Jilat vaginaku sayaaaang”.

Kembali pak renggo menatapku. Kuisyaratkan padanya agar dia mengerjakan apapun yang dikehendaki istriku lagi… pak renggo tak menyia-nyiakan waktu. Dia menurunkan wajahnya tepat ke vagina isteriku. Pelicin itu dengan rasa strawberry. Tentu saja dia jadi menjilati kelentit Shinyta seperti orang rakus saja.

Dan kemudian hal itu sangat memukul pikiranku. Pak renggo punya kumis dan jenggot tidak seperti aku yang licin kelimis tanpa kumis. Yang dapat kuperbuat hanya mengharapkan agar Shinta tak menyadari hal tersebut. Erangan dan lenguhan Shinta semakin bertambah keras dan keras. ‘ Oooh mas geli geliii heiiiis” Tak dapat kupercaya betapa terangsangnya isteriku. Punggung Shinta melengkung ke atas seakan dia berada di surga. Pak renggo berhenti beberapa saat untuk mengambil nafas.

“Kamu menikmatinya sayang? Apa kamu ingin mendapatkan yang lainnya lagi?” tanyaku. “Ya sayang”. Oooh mas setubuhi aku cepaaaat mas.

Pak renggo tahu apa rencanaku. Dimasukkannya dua jari besarnya itu ke dalam vaginanya yang basah. Begitu dia melakukan hal itu, punggung Shinta melengkung ke atas lagi. Aku jadi semakin berani.

“Apa kamu ingin agar aku bermain dengan putingmu, sayang?” kembali Shinta mengiyakan. Maka saat Pak renggo sedang memainkan vaginanya, kucengkeram payudaranya dan menjepit putingnya dengan keras.

“Apa kamu ingin merasakan dijilati vaginamu, sayang” dia melenguh lagi.

Aku jadi semakin berani ” Jika ada seorang lelaki lain di sini, sekarang ini, apakah kamu akan mengijinkan dia melakukannya padamu?”.

Erangannya semakin keras “Ya. Aku pasti akan suka itu…”. Ramuan perangsang pak renggo memang cespleng sekali, isteriku dibuatnya jadi seperti orang mabuk kepayang yang dalam keadaan terangsang berat.

“Apa kamu akan membiarkan jarinya bermain di vaginamu, sayang?”. “Ya ya ”.

“Apa kamu akan menghisap penisnya?”. “Ya. Pastiii”.

“Maukah kamu mencobanya sekarang? Yaa ….maaaaaas,akan kuhisap penisnya orang itu, mana manaaaa maaas.

” Sebuah erangan keras kembali terlepas dari bibirnya. Tak mau membuang kesempatan itu, Pak renggo menurunkan penisnya ke mulut isteriku. Shinta membuka mulutnya lebar-lebar dan langsung menelan seluruh batang penis itu ke dalam mulutnya. Kurasa aku pasti akan langsung kena maki isteriku. Ada seorang lelaki lain yang sedang bermain dengannya, tapi istriku dengan liarnya menghisap batang penis pak renggo yang mulai tegang dan keras. Shinta tak perduli lagi penis siapa yang dihisapnya. Batang penis pak renggo nampak gagah perkasa besar panjang sedang dijilati isteriku, sampai aku merasa dibuat iri oleh kegagahan batang kejantanannya.

“Aku akan melepaskan ikatanmu sekarang dan menarik tubuhmu ke tepi ranjang, tapi kamu tidak boleh melepaskan penutup matamu dengan alasan apapun juga” aku tetap berbicara dengannya.

Dengan cepat kulepaskan ikatannya dan menariknya ke tepi ranjang hingga pahanya menjuntai di lantai. Dia tetap memakai penutup matanya seperti seorang istri yang baik, tapi masih dalam keadaan rakus mengisap besar itu Aku melihat pak renggo menarik penisnya dari mulut isteriku isteriku lalu melucuti pakaiannya dan berdiri di tepi ranjang.

“Sayang, apa kamu sudah siap dengan permainan yang baru dimulai ini ?” tanyaku padanya.

“Oooh my God, ya. Setubuhi aku dengan penis yang besar tadi sayang” dia mengerang. Pak renggo semakin bergerak mendekat padanya tanpa menyentuh atau naik ke atas ranjang. Aku dapat melihat semuanya. Dengan perlahan digenggamnya batang penisnya sendiri dan menggerakkannya kedepan mengarah ke vagina Shinta. Aku terhenti karena terkejut lagi. Ini adalah pertama kalinya aku melihat batang penisnya semakin mekar. Jauh lebih besar dan panjang dariku punyaku…

Ini membuatku takut. Aku yakin kalau Shinta akan segera sadar. Tapi sebelum aku merubah pikiranku, Pak renggo sudah mendorong masuk kepala penisnya ke dalam tubuh Shinta. Oooh maaaas koq besar sekali penismu sekarang heeeizzz, rasanya mas rasaaaaanya houuusssss.

Baru beberapa centi saja Shinta sudah mengerang sangat keras. Pak renggo mengambil hal itu sebagai isyarat dan segera melesakkan seluruh batang penisnya ke dalam vagina istriku. Shinta menjadi tak terkendali… tapi kemudian dia menyadari apa yang tengah berlangsung… dia berhenti menggoyang pantatnya dan mulai bergerak untuk meraih penutup matanya. Aku menghentikan tangannya tepat pada waktunya.

“Ada apa ini?” erangnya pelan. “Kamu suka?” tanyaku tanpa mempedulikan pertanyaannya. Antara sadar dengan tidak isteriku seperti orang linglung.

Dia diam beberapa saat lalu menjawab “Ya, tapi siapa yang berada di antara pahaku?”

Pak renggo laju menyetubuhinya. Dia tak pernah berhenti…

“Sayang, apa kamu ingin kuhentikan ini semua?” tanyaku.

Lagi-lagi, setelah beberapa detik dia baru menjawab “Tidak. Jangan jangaaaaaan!”

“Apa kamu ingin dia menyetubuhimu dengan keras?” tanyaku lagi.

“Tuhan, ya. Tentu saja. Dan aku ingin menghisap batang penismu juga mas” jawabnya.

Pak renggo seakan disulut. Dia mengayun semakin keras dan keras penis panjangnya. Seluruh batang penisnya tenggelam dalam tubuh istriku. Paha Shinta mengait erat tubuh Pak renggo lebih merapat. Dia menggenggam batang penisku dan mulai menghisapnya dengan rakus. Dia seperti seorang wanita gila yang menjadi liar. Ramuan pak renggo telah merubah sifat isteriku menjadi perempuan binal, namun semuanya telah kepalang tanggung, aku mesti berhasil dalam ambisiku, biarlah kukorbankan tubuh isteriku yang molek ini demi untuk mencapai keinginanku itu. Dapat kurasakan spermaku akan meledak dengan hebat.

Isteriku melenguh dan mulai menghisap lebih cepat lagi. Tak beberapa lama kemudian kusemburkan spermaku dalam mulut Shinta dan dia menelannya secepat yang dia bisa. Kemudian kulihat ke atas dan dapat kusaksikan kalau pak renggo juga sudah hampir keluar. Ini adalah saat mengambil keputusan bagiku. Apakah aku akan membiarkan orang lain menumpahkan spermanya dalam vagina istriku atau tidak.

Kupikir ini adalah hak Shinta untuk memilih “Shinta, apa kamu mau dia keluarkan di dalam atau kamu mau dia keluarkan di atas perutmu?”

Dikeluarkannya batang penisku dari dalam hisapan mulutnya dan sungguh mengejutkanku dengan jawaban yang dia berikan “Aku mau dia keluarkan semua isi batang kejantanannya di dalam” erangnya. Aku jadi terpukau dengan ucapan isteriku.

Dan akibat ucapan itu, wajah pak renggo jadi memerah dan dia mengayunkan semakin keras lagi penisnya. Kemudian tiba-tiba saja dia berhenti dan tak bergerak sama sekali. Aku tahu kemudian kalau pak renggo orgasme. Geraman hebat keluar dari mulutnya. Shinta meraih tubuhnya dan menariknya jatuh menindih tubuhnya sendiri. Begitu bibir Shinta menemukan bibir pak renggo, dia langsung saja melumatnya dengan liar dengan tubuh berkejat kejat nikmat. Aku terduduk lesu dan menyaksikan lidah Shinta merangsak masuk jauh ke dalam mulut Lelaki tua itu. Shinta sangat terbakar pusaran birahi, dengan liar sekujur tubuhnya bergetar hebat.

Lalu sebelah tangan Shinta bergerak ke atas dan melepaskan penutup matanya. Aku tak dapat menebak apa yang akan dilakukannya kemudian. Apakah dia tak suka dengan lelaki tua ini. Aku tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawabannya. Shinta menatapnya dan menciumnya kembali. Saat dia sedang menciumnya, diraihnya batang penisku dan membuatnya keras lagi. Shinta benar-benar sedang terbakar hebat. Dia menghentikan ciumannya dan mencoba mengatur nafasnya yang tersengal sengal, Shinta mulai meracau tak karuan.

“Aku ingin penisnya pak renggo dalam mulutku” dan aku mau mas menyetubuhiku dari belakang jauh lebih keras darinya” katanya.

Aku terkejut, perjanjianku dengan pak renggo tidak begini. tapi tanpa menunggu lagi, pak renggo berbisik padaku, begini pun boleh bahkan akan lebih cepat mas Ardi menyerap ilmu ilmuku. lalu aku mengambil tempat. Shinta sangat menginginkan batang penisnya pak renggo yang besar panjang itu. Dalam genggamannya, batang penis itu dia arahkan masuk seluruhnya kedalam mulutnya yang didambakannya. Aku berada diantara pahanya dan melesakkan penisku yang kecil ukurannya namun keras ke dalam lubang vagina isteriku yang masih terisi sperma pak renggo.

Tak bisa kupercaya betapa panas dan basahnya vagina Shinta… Dalam setiap dorongan, dapat kudengar sperma pak renggo tadi dipaksa keluar dari dalam vagina Shinta. Aku menyetubuhi istriku sambil melihatnya menghisap batang penis lelaki tua itu. Dia terus mengerang bagaikan kuda betina yang binal. Dan kemudian tanpa memberi peringatan, dia menghentikan hisapannya pada penis pak renggo lalu menatapku.

“Aku mau penisnya pak renggo dalam anusku” ucapnya tegas. “ Gilaaaa, ucapanku keluar tanpa sadar.

Ini benar-benar membuatku sangat terkejut. Aku hanya pernah melakukan anal seks dengan istriku tiga kali dan selalu saja baru sebentar dia merasan kesakitan. Dan ukuran batang penisku lebih kecil dari pak renggo. Sambil memeluk istriku, aku berguling ke samping dengan penisku masih terbenam dalam tubuhnya. Pak renggo mengambil pelicin dan mengoleskannya ke pantatnya. Dengan jari tengahnya dia mulai memasuki lubang anus istriku. Aku sangat yakin kalau istriku akan menjerit. Tapi kupikir Shintaa telah terpengaruh ramuan yang diminumnya tadi, dapat kurasakan isteriku malah mendorong pantatnya ke belakang berlawanan arah dengan gerak laju jari pak renggo agar jarinya semakin masuk lebih ke dalam.

Setelah kurang lebih 3 menitan, pak renggo mengeluarkan jarinya dan merebahkan diri di belakang istriku. Istriku menggenggam batang penisnya dan menuntunnya tepat menuju ke lubang anusnya. Sedikit demi sedikit mulai masuk. Istriku meraih kepalaku dan menempelkan bibirku dengan bibirnya, dia menciumku seakan dia belum pernah melakukannya denganku. Pak renggo dan aku menyelaraskan ayunan. Shinta mengerang seakan gila. Pengaruh dari sebuah batang penis milik lelaki lain pernah memasuki vagina istriku dan sekarang berada di dalam lubang anusnya pula, sudah lebih dari cukup buatku. Aku mulai menyemburkan spermaku jauh di dalam vagina Shinta Dia tahu aku sudah keluar dan dihentikannya ciumannya terhadapku.

Pak renggo juga sudah berada di batas akhirnya…

“Mbak Shinta mau aku keluar di dalam?” teriaknya begitu keras, suara pak renggo menggema dalam kamar itu.

“Ya, ya, lakukan pak, keluarkanlah di dalam anusku” Ouuughhhhh mas enaknya…enaaak.

Sekali lagi aku dikejutkan, istriku tak pernah mengijinkan aku mengeluarkan sperma dalam lubang anusnya, tapi aneh dengan pak renggo Shinta minta dikeluarkan dalam anusnya. Beberapa detik kemudian aku menyaksikan Pak renggo berejakulasi di dalam lubang anusnya. Aku sudah merasa kelelahan. Kuraih selimut dan menariknya menutupi tubuh kami semua. Shinta berbaring dan memandangku ” Oh Tuhan, aku tak pernah membayangkan kalau kamu akan melakukan ini padaku mas”.

Pak renggo menghabiskan malam bersama kami. Batang penisku masih tenggelam di dalam vaginanya dan penis pak renggo berada dalam lubang anusnya. Kukatakan pada pak renggo kalau sudah cukup untuk malam ini, dia tersenyum dan menyarankan agar beristirahat untuk beberapa menit. Setelah beberapa menit kukeluarkan penisku dari dalam vagina istriku, dan pak renggo juga mengeluarkan penisnya dari lubang anusnya. Shinta berbalik dan mengucapkan terimakasih pada pak renggo. Beberapa waktu kemudian akhirnya aku jatuh tertidur.

*****

Seusai sesi dari seks yang dahsyat, aku langsung jatuh terlelap. Shinta berada diantara aku dan pak renggo. Pastinya ini sudah beberapa jam ketika kupikir aku sedang bermimpi. Mataku tetap terpejam, tapi aku yakin kalau aku merasakan ranjang bergerak gerak.

Aku terjaga sekarang, kucermati suara yang terdengar. Dapat kudengar suara bibir yang saling melumat dan lenguhan pelan dari Shinta. Lalu dapat kurasakan tubuh isteriku berguling dan pantatnya menekan salah satu pahaku. Aku pura-pura tak merasakannya, tapi dengan hati-hati kutengokkan kepalaku sedikit dan mengintip apa yang tengah terjadi.

Oh my God, Shinta sudah beraksi kembali. Dengan bantuan sinar lampu yang redup, dapat kusaksikan kepala Shinta bergerak naik turun pada batang penis pak renggo yang besar dan keras. Sungguh isteriku, dia sangat menyukai benda tersebut. Ditelannya keseluruhan batang itu dan terus melenguh seakan tidak akan ada lagi hari esok. Lelaki tua perkasa itu hanya terbaring di sana dengan mata terpejam. Dapat kulihat kalau dia sangat menikmati apa yang dilakukan istriku terhadapnya.

Keduanya tak tahu kalau aku menyaksikan mereka. Aku hanya berbaring dan melihat. Setelah beberapa saat lamanya, lalu pak renggo memegang kepala isteriku, menjauhkannya dari batang penisnya dan mendekatkannya ke arah mulutnya. Aku belum pernah merasakan ciuman seperti cara istriku mencium pak renggo yang begitu ganasnya. Kedua lidah mereka saling masuk sedalamnya kedalam rongga mulut yang lainnya. Dengan sebuah gerakan cepat, istriku telah berada di atas tubuh Pak renggo, bagaikan orang kesurupan Shinta menunggangi kuda jantannya.

Isteriku menggenggam batang penis lelaki tua itu dan menuntunnya masuk ke dalam tubuhnya. Dalam setiap dorongan yang teramat pelan, batang penis Pak renggo semakin masuk ke dalam dan lebih ke dalam lagi sampai akhirnya Shinta mendapatkan keseluruhan batang penis itu dalam tubuhnya. Secara pelan-pelan isteriku bergerak naik turun pada batang itu dan pak renggo menjepit kedua putting payudaranya, Shinta semakin keras dalam setiap ayunan pantatnya. Isteriku sangat senang jika putingnya di beri perhatian lebih oleh pak renggo… Ouuuugh pak enaaaaak..enaaak.

“Yeaaah pak penis besaaaar mu enak…besaaar sekaaaaali Ooooh ampuuuuun”

Tak dapat kupercaya istriku menyetubuhi lelaki ini dengan liar, tubuhnya meliuk liuk bagai penari erotis. Mungkin Shinta pikir kalau aku masih tertidur. Awalnya aku ingin menyentuhnya agar dia tahu kalau aku menyaksikan persetubuhan mereka. Tapi aku tak melakukannya. Aku tetap diam tak bersuara dan melihat. Sekarang isteriku menunggangi penis idamannya dengan keras dan cepat. Dia benar-benar sedang terbakar badai birahi. Dengan sebelah tangannya istriku mulai memainkan kelentitnya sendiri. Hal ini memberitahukanku kalau dia ingin meraih orgasmenya, orgasme dengan segera. Jari lentiknya bergerak dengan gila di kelentitnya. Dan hal ini kelihatannya membuat pak renggo semakin terangsang. Dia mulai bergerak mendorong keatas untuk menjemput setiap hentakan kebawah yang dilakukan isteriku.

Seakan berjam-jam rasanya Shinta menunggangi batang penis pak renggo yang keras panjang. Paling tidak sedikitnya dia mendapatkan orgasme lebih dari tiga kali. Dan kemudian kudengar suara erangan pak renggo.

“Aku hampir keluar Mbak Shinta” katanya dengan suara yang bergetar.

“Keluarkan paaak, keluarkan dalam vaginaku, berikan padaku sekarang” sekarang, Shinta memohon padanya. Ayooooo paaaaaaaaaak..Ooh ampun enaaaaknya. Punya mu enaaaaak pak, ya ya terus ayun yang kuat.

Dan tiba-tiba pak renggo mendorong ke atas dengan sangat keras dan menahan tubuhnya dalam posisi tersebut untuk beberapa menit. Aku tahu kalau dia sedang orgasme dengan hebat sekarang. Shinta juga menahan gerakannya dan sebuah senyuman lebar terkembang di wajahnya. Kembali dia mendekatkan wajahnya dan mencium lelaki tua itu dengan liar penuh gairah dalam pusaran badai birahinya.

Ketika meraka berhenti berciuman, Shinta berkata pada pak renggo dengan suara pelan “Kita harus berhati-hati agar tak membangunkan suamiku”. Pak renggo hanya tersenyum saja dan menganggukkan kepalanya.

Perlahan Shinta bangkit dari batang penis pak renggo dan sperma lelaki itu meleleh keluar dari vaginanya yang basah. Pak renggo memberinya sebuah ciuman singkat dan turun dari ranjang. Dia mengenakan pakaiannya dan kemudian dia keluar dari kamar. Shinta memelukku dan aku masih tetap diam, berharap kalau dia tak merasakan ereksiku.

Pagi harinya aku dibangunkan oleh ciuman shinta di pipiku. Shinta sudah bangun terlebih dulu. Dia rebah di sisiku dalam keadaan telanjang, Kupandang dia dan tersenyum. Mas, koq syarat permintaan pak renggo harus menyetubuhiku, kenapa maaas.

“Ada yang salah?” tanyaku padanya.

“Tidak ada. Tak ada yang salah sedikitpun. Tapi jika aku tahu jauh lebih awal caranya untuk mendapatkan layanan syaratnya di atas ranjang seperti tadi malam, dengan mengatur agar istrimu disetubuhi sampai gila, pasti aku sudah melakukannya dari dulu” aku hanya tertawa saja. “Tentang semalam, bagaimana menurutmu? Kamu suka?”. “Semalam sangat hebat. Kulakukan semua itu hanya untukmu mas. Semua wanita bermimpi untuk bercinta dengan lelaki lain juga yang selalu dipendam dalam hati” jawabnya.

” Jadi sama juga dengan lelaki, semua lelaki mempunyai mimpi untuk menyetubuhi wanita lain dalam waktu yang singkat”. Kataku.

“Tentu. Lelaki mana yang tak akan suka bercinta dengan wanita lain diatas ranjang dalam waktu yang singkat”. Setelah kupersembahkan tubuh isteriku yang molek kepada Pak renggo guru spranatural itu, dalam waktu tiga bulan kunanti hasilnya dan, telah menjadi kenyataan aku diangkat sebagai kepala cabang BUMN di pulau Sumatera.

Ketika aku telah menempati posisi jabatan sebagai manager proyek, isteriku setiap dua bulan sekali datang mengunjungiku ke pulau Sumatera. Pak renggo kuangkat sebagai penasehatku dalam hal kebatinan. Terkadang pak renggo ikut pula ke sumatera, namun ia lebih banyak waktunya untuk berada didusunnya, kadang ia sering mengunjungi rumahku yang di Jakarta. Pak renggo menempati kamar tamu bila ia ingin bermalam. Dalam segala hal Ardi selalu percaya kepada keramahan isterinya. Semenjak isterinya pernah menjadi korban untuk merelakan disetubuhi guru kebatinan itu. Kondisi isterinya telah kembali berjalan normal seperti biasanya, seperti tiada pernah ada kejadian apa apa. Namun Ardi tidak tahu kalau dalam jiwa isterinya telah mengalami perubahan menyimpang, dalam diri Shinta mulai tertanam naluri jalang yang terpendam. Pengalaman yang penuh dengan sensasi saat disetubuhi oleh orang lain yang bukan suaminya, telah membuat ibu muda itu menjadi seorang wanita yang haus akan kenikmatan birahi.

Dalam pandangan suaminya, Shinta tetap seorang isteri yang pemalu, kecuali jika sedang berada di dalam kamar cinta saat bersama dengannya.

Pada saat pak renggo datang berkunjung kerumah Shinta, suaminya Ardi sedang berada dipulau sumatera. Sebagai tamu yang datang berkunjung, pak renggo dipersilahkan untuk menginap dirumahnya sesuai dengan pesan suaminya untuk melayani dengan ramah baik makan minum guru kebatinannya itu . Semua pesan suaminya telah dilaksanakan Shinta, Cuma ada satu yang masih membekas pada diri Shinta. Bila bertemu dengan pak renggo, teringat kembali tentang dirinya telah dijadikan koban sebagai syarat perjanjian antara suaminya dengan pak renggo, rasanya Shinta menjadi jengah sendiri, namun tak dapat dipungkiri dan dilupakan kenikmatan yang pernah ibu muda itu terima, bahkan ia sangat merindukan persetubuhannya terulang dengan pak renggo. Sebagai guru Ardi pak renggo masih punya rasa untuk menghormati muridnya, ia tak ingin menyalah gunakan kelebihannya untuk merusak hubungan rumah tangga suami isteri itu.

Namun malam itu entah apa yang membuat pak renggo jadi terbujuk oleh bisikan hatinya. Saat malam semakin sunyi di komplek perumahan mewah itu telah merubah segala galanya, meskipun rumah mewah itu telah dilengkapi oleh alat pendingin, namun pak renggo masih merasa kegerahan, hanya dengan memakai celana kebesarannya yaitu celana hitam komprang bertelanjang dada duduk santai diruang keluarga. Shinta menemuinya sambil menawarkan secangkir kopi untuk pak renggo, “ Pak saya buatkan kopi ya “ Namun mata ibu muda itu sempat menatap dada bidang lelaki tua itu yang masih kekar dan berotot. Lelaki itu nampak sangat gagah dalam pandangan Shinta. Seperti halnya juga pak renggo begitu terpana dengan penampilan isteri Ardi yang hanya memakai pakaian tidur yang sangat tipis tembus pandang, sehingga menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah. Dibalik pakaian tidurnya Shinta tidak memakai BH dan celana dalam. Bayangan buah dadanya yang ranum dan vaginanya, membuat pak renggo menelan ludahnya. Dia tahan gejolak yang tiba tiba saja hadir menghentak birahinya.

Namun tidak mudah buat lelaki itu untuk meredam gejolak yang mulai melanda perasaanya, ketika ibu muda itu membalikan tubuhnya berjalan menuju dapur, tanpa berkedip pandangan pak renggo tak lepas dari ayunan pinggul Shinta yang berlenggok indah, dengan buah pantatnya yang bulat menantang, lelaki tua itu menelan air liurnya kembali. Pak renggo teringat kembali peristiwa didesanya ketika ia memberikan ramuan yang diminum ibu muda itu, hingga isteri Ardi yang cantik itu tak mampu membendung gejolak birahinya, yang akhirnya bisa juga pak renggo menyetubuhinya. Erangan nikmat Shinta kembali terulang dalam ingatan pak renggo, Desahan serta geliat tubuh perempuan itu, yang berkejat kejat begitu mempesona ketika berada dalam dekapannya,hentakan batang penis besarnya hingga membuat ibu muda itu jadi semakin binal, dengan racauan liarnya kian membuat pak renggo semakin buas terus menyetubuhinya. Namun Itu semua atas se izin suaminya yang telah menjadi muridnya.

Sudah seharusnya ia tidak mempunyai pikiran yang macam macam terhadap isteri Ardi itu. Shinta muncul dihadapannya dengan secangkir kopi dan penganan kecil, saat ibu muda itu meletakan minuman diatas meja dengan membungkuk, dari balik pakaian tidurnya yang tipis yang terbuka lebar, nampak gundukan susunya yang masih mengkal menantang, pemandangan itu begitu mempesona bagi lelaki tua itu. Entah itu disengaja oleh Shinta apa tidak yang jelas semuanya seolah olah mengundang datangnya badai birahi dari dalam diri pak renggo. “ Ayo pak diminum kopinya “ suara Shinta menyadarkan lamunan pak renggo dari keterpanaannya. Shinta duduk dihadapannya dengan menyilangkan salah satu kakinya pada kaki yang lain, nampak sedikit menyembul pahanya yang putih mulus itu. Tatapan mata pak renggo pada batang pahanya membuat matanya tanpa berkedip, namun Sinta berbuat seolah olah tidak menyadari dengan pandangan liar pak renggok. Bahkan dalam diri Shinta mengalir deras sifat binalnya, seakan banggah bisa memamerkan lekuk indah tubuhnya pada orang yang dulu pernah menyetubuhinya dan disaksikan oleh suami sendiri.

Dalam diri ibu muda itu timbul rasa nikmat penuh sensasi bila bisa menggoda birahi pak renggo. Wanita dimana pun juga sangat pandai menyimpan perasaannya, meski puncak libidonya yang kian tinggi. Pak renggo mengalihkn pandangannya pada tempat lain, namun acara TV yang ditontonnya tidak menarik perhatiannya. Shinta malam itu nampak cantik menggairahkan dalam pakaian tidurnya yang tipis berwarna pink, putting susunya mencuat indah dari balik baju tidurnya yang tipis, ingin rasanya pak renggo menghisap pentil itu sampai membengkak. Namun saat itu pak renggo hanya dapat menghela nafas panjang membuang perasaan tak karuan yang menyelinap dalam hatinya. Dan tak ubahnya juga dengan ibu muda itu sendiri, ia membayangkan tonjolan yang ada dibalik celana komprang pak renggo disitu bersembunyi sesuatu yang dirindukannya selama ini. Suatu benda hangat kenyal yang besar dan panjang. Perasaan ibu muda itu berkecamuk dalam diri antara kesetian dan penyelewengan. Namun gairah binalnya tak dapat dibendung. Shinta berbisik dalam hati, mengapa dirinya bisa menjadi begitu, birahi liar menyatu dengan fantasinya.

Akhirnya Shinta terpaksa mengalah, ia mohon permisi pada pak renggo untuk memasuki kamarnya, Oh ya pak saya sudah ngantuk “ saya tidur duluan ya. Pak renggo hanya mengangguk perlahan dan tersenyum. Langkah gemulai ibu muda itu yang menuju kamarnya semakin membuat pak renggo terpukau, sekujur tubuh Shinta bergetar indah disaat melangkah, goyangan pinggulnya bagaikan harimau betina yang sedang lapar, guncangan buah dadanya seolah menantang untuk minta diremas, buah pantatnya mengisyaratkan birahi lelaki tua itu untuk menyirami lahar panasnya didalam anusnya. Pengalaman yang telah lalu membuat Shinta tak dapat memejamkan matanya malam itu, pandangannya kelangit langit kamar dengan angan yang kian jauh melambung, keresahan dihatinya yang sangat jarang mendapatkan nafkah batin dari suami, semakin membuatnya risau tak menentu. Antara batas kesetian dan penderitaan makin melebar jaraknya, apa lagi Ardi telah ditempatkan di Sumatera utara memegang jabatan penting.

Malam semakin merangkak jauh, pak renggo didalam kamar sebelah masih belum berbaring ditempat tidurnya, perasaan yang berkecamuk dalam dirinya membuat lelaki tua itu hanya mondar mandir didalam ruang kamarnya. Malam itu juga Shinta mulai tak mengindahkan lagi rasa kesetiaan, pikiran bawah sadar yang memerintahkan untuk berbuat sesuatu, diluar kesadaran kedua tangannya mulai beraksi melintir puncak bukit buah dadanya, dengan desahan lirih angannya terpusat pada bayangan seorang lelaki tua yang dengan liar menyetubuhi dirinya. Bayangan itu adalah bayangan pak renggo yang dulu pernah memberikan kenikmatan tiada tara yang tak pernah dapat diraih dengan suaminya.

Entah apa yang membuat Shinta tergila-gila kedalam permainan seks pak renggo. Hampir setiap saat ibu muda itu selalu ingin merasakan kembali batang kejantanan besar keras yang penah memberinya kenikmatan. Bisikan pak renggo, ciuman, rabaan, serta keperkasaannya di ranjang, selalu membuat isteri Ardi ingin terus mengulanginya, sampai dirinya benar-benar puas, bermandikan keringat dan melayang layang diatas segala kenikmatan badai birahi.

Shinta sendiri merasa heran, mengapa hanya dengan pak renggo saja dirinya bisa terpuaskan. Terus terang sebagai wanita berusia 28 tahun, tingkat kebutuhan seksualnya terbilang tinggi. Jika sampai dua hari saja Shinta tidak melakukan hubungan seks, ia seperti orang linglung, pucat, dan tanpa gairah. Namun malam itu gairahnya memancar kembali, kecantikannya telah memukau lelaki tua itu.

Shinta yang terbaring di ranjang dengan sprei warna biru dengan posisi kaki di tekuk dan di kangkang melebar. Hingga liang kemaluannya menganga dan siap untuk menerima masuknya batang kejantanan lelaki yang dalam angannya. Sekali lagi tanpa susah payah Shinta menarik tinggi naik baju tidurnya, kemudian mulai menggerakkan perlahan tangan meraba liang vaginanya. Untuk sejurus kemudian ibu muda itu dengan posisi terlentang, liang kemaluannya menganga indah menantang, dan pertanyaan pada gejolak birahinya terjawab sudah dengan sendirinya.

Tetapi hal yang tak disangka sangka terjadi, ketika dia mulai sedikit demi sedikit menuangkan babi oil ke belahan pantatnya, otomatis membuatnya menggelinjang dan meregangkan selangkangan jadi semakin lebar dan mendesah nikmat. Angannya seolah olah pak renggo yang menyentuh bongkahan pantat indahnya. Perasaan yang dirasakan luar biasa karena gerakan itu sekaligus membuat desahannya terdengar jelas oleh pak renggo, Shinta tidak mengetahui kalau lelaki tua itu terangsang berat sedang mengintip tiap gerakannya. Pak renggo semakin mendekat kepintu kamar Shinta, Lelaki tua itu memperoleh sebuah pemandangan yang sangat sempurna dari pantat yang sangat indah. Kemudian ibu muda yang cantik itu memutar tubuhnya menghadap kepintu seolah olah mempertunjukkan keindahannya. Vaginanya terlihat cantik sekali dihiasi sedikit rambut, dan payudaranya kencang sempurna siap untuk diremas, seperti yang dibayangkan lelaki tua itu, bahwa isteri Ardi tak akan pernah merasa puas sebelum merasakan kembali penis yang di idamkannya.

Sudah sekian lama Sinta menantikan sebuah persetubuhan yang panas, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan 'memasuki' pusaran birahi, tubuh kekar yang jantan dalam khayalan semakin membuatnya melambung tinggi dengan monggosok bibir vaginanya, bayangan lelaki tua itu terekam jelas dimana ia pernah menerima batang penis besar yang menghujam dalam liang kenikmatannya. Dia mulai meningkatkan kecepatannya menusukan jarinya pada vagina, setelah ia melepaskan baju tidurnya, tangannya yang lain mencengkeram payudara.

Perasaan nikmat, tiba-tiba membawanya kembali pada kenangan saat dia disetubuhi dengan buas oleh pak renggo di dusun terpencil dulu.. Dia tidak bisa percaya apa yang dia lihatnya, Kini pak renggo sedang menyaksikan gerakan liarnya yang mantap di ambang pintu kamarnya, yang paling buruk dari semua itu, dia membiarkan pintu kamar tidak terkunci, mungkin ia lupa atau sengaja tidak menguncinya. Shinta terpukau jengah begitu saja dengan hati bergetar nafsu melihat kehadiran lelaki tua itu.

Pak renggo menyadari kejengahan Shinta, lalu ia membalikan tubuhnya kembali kekamarnya, disana pak renggo menghempaskan tubuhnya pada kursi empuk dengan bersandar. Isteri Ardi yang cantik itu semakin gelisah, keresahan batinnya telah diketahui oleh pak renggo, sudah kepalang tanggung pikirnya, ia ingin menuntaskan gejolak birahinya yang tertunda tadi, ibu muda itu lalu memakai kembali kimono tidur tanpa mengikatkan talinya, dengan rambut yang kusut masai kian menonjolkan kecantikan alami, Dengan langkah yang pasti Shinta mendatangi kamar pak renggo. Pak renggo terpukau dengan kehadiran isteri Ardi dalam kamarnya.


Pelan namun dengan pasti langkah Shinta yang langsung mendekat, tangannya menuju keselangkangan pak renggo yang sedang duduk tersandar dikursi. dengan tangan gemetar ibu muda itu meraba batang kejantanan lelaki tua itu, yang masih dalam celana komprangnya. “ Oooh pak aku ingin.. ingiiin…merasakannya kembali”, racaunya sambil mendesah manja. Batang penis lelaki itu sudah mencuat keras tanda memang sudah terangsang hebat, saat tadi menyaksikan kebinalan ibu muda itu, Pak renggo lalu menggerakan tangannya meraih buah dada Shinta. Gerakan tangannya berputar-berputar menyentuh dan meremas lembut. Ibu muda itu mendesah nikmat “ Ouuuggh paak “. Remaslah paaaak”. Remasan tangan pak renggo yang berjari besar itu, membuat Shinta semakin memajukan dadanya ke arahnya berharap agar lelaki tua itu segera menyentil puncaknya yang sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk disentuh. Tak lama kemudian pak renggo menunduk untuk mengecup bibir sensualnya. Shinta telah menemukan dirinya yang sejati, penis besar ini diharapkan yang akan meredam gejolak birahi liarnya, ibu muda itu dengan ganas dan panas membalas ciuman pak renggo. Sesuatu telah mengambil alih dari alam sadarnya. Isteri Ardi yang cantik benar benar telah menjadi kuda betina yang liar, yang siap untuk ditunggangi oleh lelaki tua itu. Lidah mereka kini mengembara di dalam mulut masing-masing ketika mereka saling memeluk dengan erat berpagutan. Dengan buas Shinta menghisap lidah pak renggo.

"Oh Tuhan,", kata Shinta ketika pak renggo meremas bukit susunya dengan meningkatkan gerakannya memelintir putingnya yang mulai mencuat terbakar.


"Kamu masih sangat rapat seperti dulu”, bisik pak renggo, aku bertaruh aku pasti kesulitan mengerjai kamu",

Ini adalah vagina paling rapat yang pernah pak renggo 'kerjai' setelah dia mengambil keperawanan isterinya. Dia mengangkat ke atas tubuh Shinta berdiri dengan memegang payudaranya, meremasnya bersamaan lalu menghisap puting susunya lagi.

"Tolong .. Oohh.. Pak heisssssss".

Shinta tidak bisa percaya, dia kini sedang menikmati bongkahan pantatnya diremas gemas oleh pak renggo. Kerinduan selama ini terpendam mulai jadi kenyataan, ibu muda itu ingin lebih yang lagi, ia ingin semburan lahar panas lelaki tua itu didalam liang anusnya atau liang vaginanya. Birahinya mulai menanjak tinggi tak terkendali.

Tangan Shinta mulai mengocok penis besar pak renggo yang masih bersembunyi dibalik celana komprangnya. Batang kejantanan pak renggo kian menjadi besar dan panjang dalam genggaman ibu muda itu. Shinta mendesah desah liar saat kehangatan penis pak renggo mengaliri telapak tangannya.

Perlahan lahan isteri Ardi itu dituntun pak renggo mendekat ke meja rias yang tidak jauh dari pintu masuk. Kemudian diangkat sedikit dan di dudukkan di tepi meja. Lelaki tua itu segera melepas ciumannya dari bibir sensual perempuan itu, dan segera menuju bagian bawah. Shinta sudah duduk dengan posisi membuka kaki cukup lebar. Sementara itu pak renggo mulai menciumi pahanya dari arah bawah dan terus menuju selangkangannya. Ketika sudah mulai mendekat ke selangkangannya, terlihat cairan bening yang keluar dari dalam vagina berkilauan karena sinar lampu kamar. Seperti sudah tidak sabar lagi, Shinta segera memegang kepala pak renggo dengan bernafsu, dan segera menarik dan membenamkan ke selangkangannya. Dan pak renggo pun mulai menjilat mulut vagina, lidahnya memainkan klitoris yang mulai membengkak. Vagina ibu muda itu terasa harum oleh pak renggo, dan memang Shinta sangat telaten menjaga kebersihan alat kelaminnya. Jamu pewangi vagina secara teratur ia minum, dan tak lupa dengan cairan pembersih Sari Ayu Shinta selalu membersihkan liang vaginanya.

Cairan bening yang sedikit kental dan asin dirasakan pak renggo terus keluar semakin banyak. Setiap lidah lelaki tua itu menusuk masuk kedalam vaginanya, Shinta merintih, dengan menyebut-nyebut nama suaminya. “ Oooh mas Ardi maaaafkan aku. “toloooong.” “Heiiiss ampuuun pak renggo “. Terus teruuuuus pak enaaak”. Bagian klitoris itu membuat pak renggo tertarik untuk memainkannya karena dia ingin membuat isteri Ardi yang cantik itu menjadi kuda betina liar dalam pusaran badai birahinya. “ Enaak sayang “ lelaki tua itu menggumam sambil menjilat klitoris Shinta yang kian membengkak.


Sementara sambil asyik dengan menjilat mulut vagina ibu muda itu, pak renggo melorotkan celananya di lemparkan ke lantai. Tidak lama kemudian pak renggo mulai menarik kepalanya, dan segera kepala itu menjauh dari selangkangan Shinta dan bergerak menuju payudaranya yang sudah tidak tertutup sehelai benang pun.
Putting susu ibu muda itu terasa kenyal dan mengeras. Dengan sedikit gigitan yang ringan, ia kunyah lembut dan kemudian dihisap panjang dalam mulut. Dengan memakai ujung lidahnya, puting dan daging lembut disekitarnya terus dipermainkan pak renggo. Shinta menjerit nikmat…”Oooughhh.. pak.. paaaaak nikmatnya..Oh terus hisaaaaaap yang kuat paaaaaaak. Oh Tuhaaaan. “ Cepat setubuhi aku paaaaaak”


Kemudian pak renggo menegakkan badan dan wajah Shinta untuk mendekat ke dada kekarnya. Ibu muda itu mulai mengecup berbagai tempat di sekitar dada, kemudian Shinta menjilati puting lelaki tua itu, kiri dan kanan dan kemudian mengulumnya dengan begitu bernafsu. Pak renggo pun mulai merapatkan diri ke Shinta yang sedang duduk di ujung meja dengan posisi kedua kaki dibuka lebar siap menerima kenikmatan penis. Walaupun sudah begitu merapat, penis besar pak renggo dibiarkan dahulu di luar, di sekitar selangkangan dan mulut vagina Shinta, mengegesek gesek lembut namun menimbulkan percikan birahi membara disekujur tubuh ibu muda yang cantik itu. Shinta semakin belingsatan didera kenikmatan.

Ibu muda itu dengan buas menciumi puting dan dada pak renggo, akhirnya tidak sabar juga, dengan suara yang begitu merangsang isteri Ardi yang cantik mulai merengek supaya pak renggo segera memasukkan penis besarnya ke vagina Shinta yang sudah banjir dari tadi . Pak renggo meminta Shinta saja yang memasukkannya sendiri, dan perempuan cantik itu kemudian menggenggamnya dengan tangan gemetar, berusaha memasukkan penis besar panjang keliangnya, dan diarahkan ke lubang vagina dengan sedikit menarik tubuh pak renggo yang segera menyesuaikan diri, dan membantu ibu muda itu untuk memasukkan penis besarnya “ Heeiiigh. Oooh pak besarnya”. Aku rindu ini punyamu paaaaaak.

Pak renggo membantunya dengan perlahan lahan mendorong batang penis terus masuk ke dalam vaginanya. Seperti sedang menerima sesuatu yang sejak tadi ditunggu tunggu, Shinta merintih begitu bernafsu. Lelaki tua itu mulai menggerakkan pinggul perlahan lahan sehingga penis panjangnya keluar masuk vagina yang berkedut kedut dindingnya dengan berirama. Shinta kemudian memeluk pinggang pak renggo, dan bibirnya yang tidak henti hentinya merintih melekat di telinga lelaki perkasa itu, dengan meracau nikmat. “ Ooooh setubuhi aku yang keraaaaas” Untuk beberapa saat mereka terus bermain cinta dengan posisi demikian.

Perlaha lahan namun pasti Shinta merasakan puncak kenikmatan semakin dekat. Matanya mulai terpejam, ah..., “Ouuugh pak saat saat seperti ini yang aku tunggu, dan aku rindukan setiap malam agar dapat bercinta dengan laki-laki jantan seperti mu pak paaaak”. Desahan Shinta semakin terdengar tak beraturan ditelinga pak renggo. Darah ditubuh ibu muda itu mengalir dengan cepat. Dan, tak berapa lama, tubuhnya terasa bergetar. Shinta menggelinjang, punggung pak renggo didekapnya erat, sementara kakinya menekan pantat lelaki perkasa itu sekuat tenaga. "Terus paaak...terus...." Gerakan pak renggo menghentakan batang kejantanannya semakin cepat dan kuat. " Oooh Sedikit lagi...paaaak sedikit lagi." Ooooghhh aku hauuuus paak…haus, ludahi mulutku paaaaak”. Pak renggo mencium mulut ibu muda itu dan air ludahnya memenuhi rongga perempuan cantik itu. Kenikmatan telah dirasakan Shinta semakin dekat, dan..... "Ooooooh....., ampuuuun pak" desahan nikmatnya yang panjang terdengar keras. Kaki ibu muda itu menghentak hentakkan pantat pak renggo, nafasnya memburu, dan pinggulnya meliuk liuk bagai penari erotis.

Pak renggo memperlambat gerakannya dan melihat pada Shinta sambil berbisik “ Nikmatilah dan rasakan batang kejantananku sayang” kau telah menggodaku malam ini untuk menyetubuhimu. Kemudian, nafas ibu muda itu mulai memburu. Matanya masih terpejam saat pak renggo mencium bibirnya dengan lembut. Shinta membuka matanya, dan pak renggo mulai lagi bergerak dengan buas. Penisnya menghujam vaginanya tanpa ampun. Hanya reda beberapa saat, desahan nikmat isteri Ardi mulai kembali memburu, demikian juga dengan Pak renggo.


"Uuh...uh, Ayo manisku yang binal,...aku sudah mulai mendaki," bisik pak renggo pada isteri Ardi, yang bagai orang kesurupan berkejat kejat dalam hentakan buasnya, pak renggo memacu birahi kuda betinanya untuk sampai digaris finish.


Dengan gerakan memutar memutar dalam hentakkan pinggulnya pak renggo, semakin lama gerakannya semakin cepat dan semakin menekan kedalam vagina Shinta. Dengan gerakan hebat pak renggo menghentakan penis besarnya semakin dalam. ibu muda itu melepaskan erangan histerisnya tanda mencapai orgasmenya yang pertama.

Oh ampuuuun pak, aku sampaiiiii, enaaak….tolooong” dengan tubuh bergetar hebat isteri Ardi yang cantik itu tenggelam dalam pusaran badai birahinya.

Bukannya menghentikannya, pak renggo malahan menyentil-menyentil pentil susunya dengan ujung ujung jarinya, sambil mengayunkan penis besarnya didalam liang yang sempit yang berdenyut denyut mencengkram lembut batang kejantanannya. Pak renggo melenguh nikmat, “Ooh cah ayu punya mu uenaak teunan “.


Ketika ibu muda itu belum reda dengan orgasmenya yang pertama, pak renggo memindahkan tubuh Shinta keatas ranjang, pak renggo membuka selangkangannya lebar-lebar dan merekahkan kedua bibir vaginanya yang dibanjiri air kenikmatannya. Kemudian lelaki tua itu dengan telapak tangan kanannya (ke empat jari-jarinya), mulai menepuk-menepuk pussy Shinta yang terpampang lebar di depannya. Gerakan-Gerakan itu bermula dengan pelan, dan setiap kali “tamparan” nya mengenai bibir vagina yang sudah basah itu, Shinta tersentak-tersentak antara rasa kaget dan erotis.

Akhirnya, pukulan-pukulan kecil itu bertambah keras dan cepat seiring dengan Shinta mendapatkan sensasi yang luar biasa di ronde yang kedua. Ibu muda itu orgasme hebat diselingi erangan-erangan ketika tamparannya mengenai vagina dengan cairan kentalnya yang mengalir deras sampai ke bongkahan pantatnya.


“Argh, argh, hmph hmph..” ampuuuun paaaak”
“Enak kan, Shinta?” Ayo jawab…manisku yang binal, kau telah menggodaku”. Kau telah mendapatkan hukumannya. Malam ini nikmatilah batang kejantananku yang akan menelusuri anus mu. Aku tahu kau merindukan kenikmatan yang pernah kau rasakan dulu. Betapa nikmatnya lahar panasku menyembur dalam anusmu, betapa indahnya tubuhmu saat meliuk liuk didera rasa nikmat itu. “ Ayo ngaku pelacur cantikku… kamu suka khaaaan “. Ya yaaa pak aku sukaaaaaa punya mu.


Malam itu, akhirnya Shinta tertidur kecapaian setelah mendapatkan empat kali orgasme dalam pacuan birahi pak renggo, dari berbagai macam posisi ibu muda itu disetubuhi pak renggo hingga berkelojotan. Disaat menjelang fajar Shinta terbangun dengan posisi yang mengangkang lebar menantang dengan vagina yang basah meleleh sampai ke pantat, begitu banyaknya semburan lahar panas pak renggo membanjiri liang sempitnya. Pak renggo masih pulas dalam tidurnya yang terlentang, dengan batang kejantanannya setengah menegang. Shinta begitu takjub melihat batang penis lelaki tua itu yang selalu siap untuk memberinya kenikmatan.


Dengan perlahan-lahan Shinta bergerak menempatkan posisi badannya sehingga bagian pinggulnya berada sejajar dengan kepala pak renggo dan dengan setengah berjongkok, Batang kemaluan renggo persis berada di depan kepalanya. Rupanya Ibu muda itu ingin menjilati serta menghisapi batang perkasa itu, karena begitu pak renggo terjaga dari tidurnya terasa batang kemaluannya dipegang oleh tangan halus lembut. Kini terasa kepala penisnya seperti menerobos masuk dimulut yang hangat. Ketika ujung lidah Shinta mulai bermain-main di seputar kepala penisnya, suatu perasaan nikmat tiba-tiba menjalar dari bawah terus naik ke seluruh badan pak renggo, sehingga dengan tidak terasa keluar erangan kenikmatan dari mulutnya dengan meracau. “Oooh pelacur manisku…terus teruuuus hisap yang kuat, ambilah sari madu yang kau rindukan itu.

Racauan liar pak renggo semakin memacu birahi perempuan cantik itu, kata kata “ pelacur cantik” telah membuat Shinta kian bergairah dengan nafsu kian jadi membara. Shinta begitu menikmati kata kata vulgar pak renggo. Dan memang dirinya telah menjadi seorang perempuan pelacur, ia melacurkan dirinya hanya untuk pak renggo yang telah memberikan segala galanya yang tak pernah didapat dari suaminya. Akhirnya pak renggo membuat perlawanan, dia layani keinginan ibu muda itu.

Dengan posisi 69 ini keduanya bercumbu, saling hisap mengisap, jilat menjilat seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu sama lain. Beberapa saat kemudian pak renggo menghentikan kegiatannya dan tetap berbaring telentang sambil telentang pak renggo menarik Shinta ke atas tubuhnya. Dengan suatu tekanan oleh tangan kekarnya pada pantat Shinta, maka penis besar itu langsung menerobos masuk ke dalam liang vaginanya. Amblas semua batang kejantanan itu.
“Aagggghh..!” terdengar lenguhan panjang kenikmatan keluar dari mulut perempuan cantik itu.


Shinta tambah semangat dengan ikut mengimbangi dengan menggoyang pantatnya dan menggeliat-geliat di atas tubuh pak renggo. Lelaki tua itu melihat wajah ibu muda itu semakin cantik disaat sedang memburu birahinya, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai, sedang kedua buah dadanya yang indah padat itu, bergoyang goyang indah membuat pak renggo kian liar meremas bongkahan pantatnya. Cengkraman tangan lelaki tua itu semakin kuat untuk menekan ayunan pantat Shinta yang liar dengan vagina yang terganjal penis besarnya.

Pak renggo melihat pada cermin besar di lemari, kelihatan pinggul isteri Ardi yang sedang berayun-ayun indah di atas tubuhnya. Batang penisnya yang besar sebentar terlihat sebentar hilang ketika Shinta bergerak naik turun di atasnya. Hal ini membuat pak renggo jadi makin terangsang. Tiba-tiba sesuatu mendesak dari dalam penis pak renggo mencari jalan keluar, hal ini menimbulkan suatu perasaan nikmat pada seluruh badannya, dengan meremas kedua bukit kembar Shinta. Kemudian air lahar panasnya tanpa dapat ditahan menyemprot dengan keras ke dalam lubang vagina ibu muda itu, yang pada saat bersamaan pula vagina Shinta terasa berdenyut denyut dengan kencangnya disertai tubuhnya yang berada di atas tubuh pak renggo bergetar dengan hebatnya dan berkelojotan. Kedua tangannya mendekap badan kekar pak renggo dengan keras. “ Ouuugh pak paaaak enaaknya ampuuuuuun pak “. Semburan lahar panas yang dahsyat itu membuat Shanti terhempas kedalam badai kenikmatan tiada tara.

Keduanya mengalami orgasme dengan dasyat. Akhirnya Shinta tidur tertelungkup di atas tubuh pak renggo dengan lemas dan dari bibirnya tersungging senyuman puas.


“Pak.., terima kasih pak. Bapak telah memberikan kepuasan sejati..!”

Pak renggo membelai rambut panjang Shinta seraya berbisik, “ kau seorang wanita yang terhebat manisku”. Aku akan selalu memberikan apa yang menjadi kerinduanmu. Kau cantik, dan tubuhmu begitu menggairahkan sekali, dan liang vagina mu sempit nikmat berdenyut denyut. Shinta tersenyum dengan pujian pak renggo itu, begitu bahagia perasaannya bercampur jengah. “ Teeetapi bukan milik ku yang sempit, punya bapak yang terlalu besar dan panjang”. Keduanya lalu kembali berciuman dengan liar dan buas. Batang kejantanan pak renggo masih tegak perkasa didalam liang perempuan cantik itu, meski telah berejakulasi namun tetap gagah, entah ramuan apa yang diminum pak renggo.

“Aaughh.. oohh.. oohh..!” terdengar rintihan Shinta, sementara pak renggo menggerakan-gerakan pantatnya sambil menekan ke atas.
Dalam posisi itu dimana berat badan Shinta sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya yang sedang terganjel oleh penis besar panjang pak renggo, maka dengan begitu cepat ibu muda itu akan mencapai klimaksnya kembali.
“Aaduhh.. pak.. Aku.. maa.. maa.. uu.. keluuar.. paaaak..!” dengan lenguhan panjang seperti sapi disembelih disertai badannya yang mengejang, isteri Ardi mencapai orgasme yang begitu dahsyat dirasakannya, dan selang sejenak terkulai lemas dalam pelukan pak renggo.

Dengan penis besar yang masih berada di dalam lubang kemaluan Shinta, pak renggo terus membalikan tubuhnya. Lelaki tua itu menindihnya. Dalam keadaan yang masih terkulai lemas didera nikmat yang baru saja terjadi, pak renggo menggenjot ibu muda itu kembali, tanpa jedah dengan sangat bernafsu, sampai Shinta berkejat kejat sambil mencakari punggungnya hingga berdarah. Lelaki tua itu mulai mendekati pendakiannya yang tertunda.

Shinta mengerutkan otot otot di dalam vaginanya untuk mencengkeram penis besar pak renggo, ibu muda itu memutar pinggulnya sambil menaikan pantatnya ke atas, sampai ke leher batang kemaluan yang panjang. Kemudian dengan cara yang sama dilakukannya dengan menghentak keatas, dilakukannya berulang-ulang. Pak renggo mengelus dan meremas bokong indah isteri Ardi, pinggul lelaki tua itu menghujam lebih dalam lagi vagina Shinta dari atas dengan irama yang sudah sangat harmonis. Posisi ini juga adalah posisi favorit Shinta (hingga kini). Buah dadanya terhimpit dada kekar pak renggo, perut pak renggo menggesek gesek perutnya dan desis kenikmatan perempuan cantik itu semakin menyatu dengan deru nafas pak renggo.

Shinta rasakan gesekan otot dan kulit penisnya pak renggo di dalam vaginanya, rasanya enak sekali, kepala penisnya yang besar yang menyodok nyodok dinding rahimnya makin menambah kenikmatan yang dialami. Bagian dalam vaginanya berkedut makin memompa. Shinta melenguh panjang dengan tubuh berkejat kejat dalam hentakan buas dan liar lelaki pejantan tangguh itu. Dicengkramn gemas bongkahan pantat ibu muda itu, sambil mengisap putting susu indahnya, pak renggo menghentakan penisnya semakin liar, spermanya menyemprot tumpah dengan deras ke dalam liang vagina Shinta, mengisi segenap relung-relung di dalamnya. Ibu muda itu pun berkelojotan saat puncak kenikmatannya diraihnya bersama ledakan lahar panas pak renggo.

Tubuhnya berkejat kejat nikmat dengan pantatnya naik keatas untuk menjemput hentakan penis besar yang menghujam deras, dadanya membusung membuat pak renggo dengan buas menghisap pentil susunya yang kian mencuat indah…” Ooooh ampuuuuun paaak”, Deru nafas ibu muda itu memburu, dengan kepala menggeleng kanan kiri, saat tenggelam dalam pusaran badai kenikmatanya. Begitu sempurna kenikmatan yang diterimanya, hingga dirasakan oleh Shinta menyentak ke ubun ubunnya, dengan jiwa melayang keawang awang.

Shinta tak tahan lagi untuk tidak mengeluarkan suara-suara liarnya oohhhhhhhh............ssshhhhhhhhhh, meski masih terdengar perlahan, pada saat batang kejantanan pak renggo masih berkedut kedut didalam liang vaginanya. Dan bibir kelaminnya basah meleleh oleh lendir madu mereka berdua.

Mengapa benda yang tegar, perkasa dan penuh pesona itu tak juga melemah serta masih memberikan kenikmatan dalam dirinya. Hanya itu yang bisa Shinta ingat dan selanjutnya ibu muda itu tertidur sesaat dan terbuai kedalam mimpinya yang indah. Ketika Shinta tersadar dari mimpi indahnya, Pak renggo telah turun dari atas tubuhnya. Lelaki tua itu kembali dengan rakus menjilati liang vaginanya.

Menjilatinya, menghisapnya dengan ganas. Bahkan membalikan tubuhnya tengkurap, mengangkat pantatnya, kemudian menjilati anusnya yang membuat dia berpegangan dikasur yang empuk dengan tubuh menggigil dan tersentak sentak menahan getaran nikmat tak terlukiskan yang akan diterimanya kembali.

Shinta akan menerima kembali orgasmenya yang penuh sensasi disaat matahari akan terbit. Kali ini bahkan lebih hebat dari yang semalam, jilatan liar pak renggo pada lubang anusnya, membuatnya tanpa sadar membuat ia terpekik histeris, dan tubuhnya mengejang sangat lama.............
oooooghhhhhhhhh................sshhhhhhhhhhh.......ohhhhh pak

Pak renggo Sangat rakus! Menjilati lubang anus isteri Ardi yang cantik itu.
"Oh.. masih kecil dan sempit.. punya mu manis," bisiknya. Apakah kamu merindukan ini….lidah ku yang menjilati anus mu ? “ ayo jawab.. “ Y y yaa pak.

“Apakah kau ingin penisku ada didalam anus sempit ini ? “ ya paaaaak, ibu muda itu menjerit histeris sekali lagi saat lidah pak renggo menjilat liar anusnya. Jelas itu ungkapan bawah sadarnya.

Jilatan liar pak renggo demikian ber irama, membuat ibu muda itu, pantatnya diangkat naik dengan bergetar hebat menahan kenikmatan dari permainan lidah pak renggo , isteri Ardi yang cantik itu kelihatan bagai orang kalap akibat nafsu birahinya tak terbendung. Lelaki tua yang sudah sangat berpengalaman dengan wanita yang diambang klimaksnya jadi kian bersemangat mengerjainya, betapa indahnya tubuh perempuan cantik itu saat menggeliat geliat ingin melepas bendungan birahi dari dalam dirinya.

Tanpa menuggu terlalu lama akhirnya Shinta merasakan panasnya batang kejantanan pak renggo berada di ambang pintu lubang anusnya. Kali ini ibu muda itu memejamkan matanya, dengan mengerang bagai sapi sekarat, saat batang penis hangat itu digesek gesekan pada belahan pantatnya, dengan dicengkram kuat oleh tangan kekar pak renggo bongkahan pantat indah itu, kepala Shinta terangkat keatas dengan biji mata terbeliak didera nikmat.


Dan tubuh Shinta bagai terkena sengatan listrilk, tubuhnya bergetar berkejat kejat kenikmatan. “Cah ayu.... suka … kamu suka ini..kontol besar dalam lubang anus mu” ujar lelaki tua itu. Yang hanya bisa di jawab oleh desahan desahan nikmat ibu muda itu.

. “Oh enaaaknya pak” . pak renggo itu hanya tersenyum kenikmatan juga. Penis itu dengan pasti telah menerobos bergerak masuk dengan perlahan, membuat tubuh isteri tersayang Ardi terguncang keras. Shinta menjerit nikmat, anusnya mulai terbiasa dengan penis besar itu kembali. Ougggh pak beri aku kenikmatan seperti dirumah mu. Ooooh pelannn pelaaan paaaaaaaak. “ Sakit manisku….tidak pak tapi perlahan dulu ya. Rasa nyeri hanya sebentar dirasakan Shinta, kini telah berganti dengan rasa nikmat yang tiada taranya.

Dan pak renggo terlihat jelas, sangat menikmati lubang anus ibu muda itu. Dia terus menggoyangkan penisnya. Shinta semakin merasakan adanya perubahan, sepertinya didalam anusnya tiba tiba ia merasakan nikmat yang tiada tara menerima penis sebesar itu. Ibu muda itu mengigit bibirnya, rasa nikmat yang dialaminya dengan cepat dan pasti menyentak sampai keubun ubunnya.

Shinta tak kuasa lagi didera kenikmatan, ia mengerang bagai kuda betina liar, seakan akan memberitahukan pada pak renggo, bahwa dia sangat menikmati permainan ini. Tubuhnya bergoyang meliuk liuk, kepalanya bergerak ke kiri dan kekanan. Lelaki tua itu terus menggoyang menghujamkan penisnya semakin buas dan dalam. “ahhh … ahhh.. aku tak tahan… aku tak tahan…” tiba tiba isterinya Ardi yang cantik itu mengerang. Dan tubuhnya kembali mengejang, mengejet berkejat kejat nikmat. Shinta akhirnya orgasme, namun terus saja mbah barja memacu penisnya di dalam liang anus ibu muda itu. Nafas pak renggo mendengus dengus bagai banteng liar menikmati liang anus Shinta. Tak lama isterinya Ardi yang bahenol itu kembali mendapatkan orgasmenya lagi secara beruntun, yang kemudian di susul oleh pak renggo.

Ibu muda itu bisa merasakan jelas panasnya cairan birahi lelaki perkasa itu memenuhi liang anusnya menyembur dengan deras, begitu nikmatnya semburan lahar panas itu hingga Shinta menjerit histeris…Ougggh tolooooong. Nikmaaaaaat sekali pak. Ooooooh pak…..ampuuuuuuun pak renggooooo. Dan kenangan saat pertama kali ia disetubuhi pak renggo didesa terpencil itu, kini kembali telah menjadi kenyataan. Shinta isteri Ardi yang cantik itu, kian menjadi perempuan binal setelah menikmati batang kejantanan pak renggo yang besar panjang perkasa.

Selama tiga malam pak renggo menginap dirumahnya, selama tiga malam itu pula ladang gersang ibu muda itu disirami air kenikmatan pak renggo yang sebaya dengan usia ayahnya Shinta. Sungguh menakjubkan kebutuhan seks tidak pernah memandang usia lawan jenisnya.

TAMAT.

Ibu Mertuaku yang Pemarah 02

Minggu, 06 Februari 2011

 
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya. Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku, "Nak Suur.., toloong.., cepaat.., saa.., yaang.., ayoo.., Suur".

Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata, "Cepaat.., Suur.., ibu sudah nggak tahaan".

Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara, "sshh.., aahh.., Suur.., teruus.., adduuhh.., enaak.., Suur", Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, "Aahh.., oohh.., Suur.., betuul.., yang itu.., Suur.., enaak.., aduuh.., Suur.., teruskaan.., aahh", sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya. Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang, "aahh.., ooh.., duuh.., Suur.., ibuu.., mau.., mauu.., sampaii.., Naak.., ooh", disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.

Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata, "Naak Suur.., ke sinii.., saayaang", dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu, "Suur.., Ibu puas dengan apa yang Nak Suur.., lakukan tadi, terima kasiih.., Naak". Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya, "Buu.., saya sayang Ibuu.., saya ingin ibu menjadi.., puu..aas".

Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, "Naak Suur.., Ibu masih belum puas sekali.., Suur.., toloong puasin ibu sampai benar-benar puaas.., Naak", seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya. Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali, "Sayaang.., ayoo.., toloong Ibu dipuasin lagi Suur, tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu".
"Buu.., seharusnya saya tidak boleh melakukan ini.., apalagi kepada Ibuu", sahutku di dekat telinganya.
"Suur.., nggak apa-apa.., Naak.., Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak.., lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suur", katanya dengan suara setengah mengiba.

"aahh.., biarlah, kenapa kutolak", pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan, "Buu.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang, boleh?".
"Suur.., cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak", sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil, "Aduuh.., Suur.., pelan-pelan saayaang.., ibu agak sakit niih", katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan. Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, "Maaf Buu.., saya sudah menyakiti Ibu.., maaf ya Bu". Ibu mertuaku kembali menciumku, "Tidak apa-apa Suur.., Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur..", sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.

"Buu.., saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa.., kalau ibu merasa sakit", sahutku. Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan, "Buu.., sakit.., yaa?". Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab, "Suur.., masukkan saja sayaang", sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan penisku dan, "Bleess", penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, "Aduuh.., Suur", sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.
"Buu.., sakit yaa..? maaf ya Buu". Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.
"Enggak kok sayaang.., ibu hanya kaget sedikit saja", lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, "Suur.., besar betul punyamu itu".

Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah, "sshh.., ooh.., aahh.., sayaang.., nikmat.., teruuskan.., Naak", katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya, "Buu.., aahh.., punyaa Ibu juga nikmat, buu", sambil kuciumi pipinya.

Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah, "Aah.., Suurr.., ooh.., teruus.., Suur". Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya. Aku tersentak kaget, "Buu.., kenapa? apa ibu capeek?", Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap, "Suur.., coba hentikan gerakanmu itu sebentar".
"Ada apa Buu", sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.
"Suur.., kamu diam saja dan coba rasakan ini", kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, "Buu.., aduuh.., enaak.., Buu.., teruus Bu, ooh.., nikmat Buu", dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.
"ooh.., aah.., Suur.., enaak Suur", dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.

Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu mertuaku protes, "Kenapa.., Suur.., kok berhenti?", tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.

Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, "Suur.., aduuh.., punyamu masuk dalam sekali.., naak.., aduuh.., teruus sayaang.., aah", dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat. Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, "Ooohh.., aahh.., Suur.., enaak.., terus, tekan yang kuaat sayaang".

Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu, "Buu.., coba ibu tengkurap dan nungging", kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging, "Aduuh.., Suur.., kamu kok macem-macem sih", komentar Ibu mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak, "Aduuh Suur, ooh", dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak, "ooh.., ooh.., Suur", dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi, "Suur.., Ibu capek Naak.., sudaah Suur.., Ibuu capeek", dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.

Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat, "Suur.., jangaan.., kuat-kuat Naak.., badan ibu sakit semua", sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.

Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, "Maaf.., Buu.., kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan", segera saja ibu berucap, "Suur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo.., Suur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas".
"Iyaa.., Buu.., saya akan coba lagi", sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang vaginanya.

Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, "oohh.., aahh.., Suur.., teruus.., ooh", seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.

Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, "Nak Suur.., aduuh.., Ibuu.., sudaah.., ooh.., mauu kelluaar". Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, "Bagaimana.., Buu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.

Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, "Buu.., saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?", seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, "Jangaan.., Suur.., jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuu, jangaan dicabut dulu.., yaa.., sayaang", terus kembali menutup matanya.

Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, "Tidaak.., Buu.., saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini", sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, "Aduuh.., ooh.., Buu".
"Kenapa.., sayaang.., enaak yaa?", sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, "Buu.., enaak sekalii", dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, "ooh.., aah.., Suur.., teruus.., naak.., aduuh.., enaak sekali".

Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar, "Buu.., sebentar lagi.., sayaa.., sudaah.., mau keluaar", sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata, "Suur.., teruuss.., Naak.., Ibuu.., jugaa.., sudah dekat, oohh.., ayoo Suur.., semproot Ibuu dengan airmuu.., sekaraang".
"Iyaa.., Buu.., tahaan", sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.

Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.
"Buu.., apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?", tanyaku.
"Mungkin saja Suur.., kenapa Suur?", Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.
"Buu.., kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia", ibu hanya diam dan seperti berfikir.
Setelah diam sebentar lalu kukatakan, "Buu.., sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.

Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel, sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjung rumah kami.

Ibu Mertuaku yang Pemarah 01

Bapak mertuaku (Pak Tom, samaran) yang berusia sekitar 60 tahun baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah pensiun dari anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus berkarya, maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah Malang, Jawa Timur selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau ingin mengurusi kebun Apelnya yang cukup luas.

Ibu mertuaku (Bu Mar, samaran) walaupun sudah berumur sekitar 45 tahun, tetapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau tidak cantik tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya selalu berkecukupan dan telaten mengikuti senam secara berkala dengan kelompoknya.

Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjunginya bersama Istriku (anak tunggal mertuaku) dan anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan kami disambut dengan gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun lebih tidak bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya. Pertama-tama, aku di peluk oleh Pak Tom mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta memeluknya dan Bu Mar mendekapku dengan erat sehingga terasa payudaranya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi tegang karenanya.

Dalam pelukannya, Bu Mar sempat membisikkan Sur..(namaku).., Ibu kangen sekali denganmu", sambil menggosok-gosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak mengecewakannya kubisiki juga, "Buu.., Saya juga kangen sekali dengan Ibu", dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata, "Suur.., Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut Ibu", dan karena kaget dengan kata-kata itu, aku menjadi tertegun dan terus saling melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.

Setelah dua hari berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan dalam rumah tangga mertuaku, terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku selalu saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak meladeni ibu mertuaku ketika beliau sedang marah-marah dan ayah mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun Apelnya, walaupun di situ hanya duduk-duduk seperti sedang merenung atau melamun. Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah laku orang tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat jauh berlainan dibanding sewaktu mereka masih berada di Jakarta, kami berdua hanya bisa menduga-duga saja dan kemungkinannya beliau itu terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk menanyakannya kepada kedua orang tuanya, lalu Istriku memintaku untuk mengorek keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya, maka istriku memintaku untuk menanyakannya sewaktu dia tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun Apelnya.

Di pagi hari ke 3 setelah selesai sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku, pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya di kota Kediri, yang tidak terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.
"Lho.., Mur (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?", tanya ibunya.
"Laah.., nggak usahlah Buu.., biar Mas Sur nemenin Bapak dan Ibu, wong nggak lama saja kok", sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-hati di jalan karena hanya pergi dengan cucunya saja.

Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Tompun pamitan dengan istrinya dan aku, untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil menambahkan kata-katanya, "Nak Suur.., kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul bapak saja ke sana". Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku, kugunakan untuk membaca koran lokal di ruang tamu.

Entah sudah berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah kubaca semua dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu yang jatuh dan diikuti dengan suara mengaduh dari belakang, dengan gerakan reflek aku segera berlari menuju belakang sambil berteriak, "Buu.., ada apa buu?". Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih, "Nak Suur.., toloong Ibuu", dan ketika kujenguk ternyata ibu mertuaku terduduk di lantai dan sepertinya habis terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaian sambil meringis dan mengaduh serta mengurut pangkal pahanya. Serta merta kuangkat ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil kutanya, "Bagian mana yang sakit Buu", dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah meringis seperti menahan rasa sakit, "Di sini.., sambil mengurut pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya".

Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya, "Buu.., apa ada bagian lain yang sakit..?
"Nggak ada kok Suur.., cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit..", jawabnya.
"Ooh.., iya nak Suur.., tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu terasa panas dan hilang sakitnya".
Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, "Ayoo..lah nak Suur.., nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan sungkan.., tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih itu.., ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan.

Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya seraya kutanya, "Bagaimana Buu.., apa bagian ini yang sakit..?
"Betul Nak Suur.., yaa yang ituu.., tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah", dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, "Nak Suur.., tolong agak ke atas sedikit ngurutnya", sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.

"Ayoo.., doong.., Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti", kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.
"Iii.., yaa.., Buu maaf, tapi.., Buu", jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.
"aah.. kenapa sih Nak Suur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.
"Buu.., Saa.., yaa.., saayaa", sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.

"Nak Suur..", katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku, "sshh.., sshh". Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.
"Buu.., Saa..yaa", dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, "Nak Suur.., kook seperti anak kecil saja.., siih?".
"Buu.., Saa.., yaa.., takuut kalau nanti bapak datang", sahutku gemetar karena memang saat itu aku takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, "Nak Suur.., Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti.., tolong Ibuu.., naak", terdengar seperti mengiba.

Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para pembaca Situs "17 Tahun.Com" pun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.
"Ayoo..lah Nak Suur.., tolongin Ibuu.., Naak", kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.
"Buu.., biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?", pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab, "Nggak usah naak.., selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu", serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.

Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.
"Buu.., boleh saya bukaa.., rok Ibu..? tanyaku minta izin.
"Suur.., bol.., eh.., boleh.., Nak, Nak Suur.., boleh lakukan apa saja..", katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendek yang ada di badanku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas, lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan tersembulah payudaranya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua tanganku ke bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan, "Buu.., boleh saya pegang dan ciumi tetek.., Ibuu..?
"Bool.., eh.., boleh.., sayang.., lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama sekali tidak mendapatkan ini lagi dari bapakmu.., ayoo.., sayaang", sahut ibu mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar, "sshh.., aahh.., sayaang.., oohh.., teruus.., yaang.., tolong puasiin Ibuu.., Naak", dan suara ibu mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri dan ibu dari istriku.

"Naak Suur", kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya, "Ibuu.., ingin melihat punyamu.., Naak", seraya tangannya berusaha memegang penisku yang masih tertutup celana pendekku.
"Iyaa.., Buu.., saya buka celana dulu Buu", sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar, "Nak Suur.., besar betuul.., dan keras lagi, ayoo.., dong cepaat.., dibuka celananya.., agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas", katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya, langsung saja kulepas celana pendek yang kukenakan.

Ketika aku membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung saja ibu mertuaku berteriak kecil, "Aduuh.., Suur.., besaar sekali", padahal menurut anggapanku ukuran penisku sepertinya wajar saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih besar dari punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil, "sshh.., aahh", sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.

"Aduuh.., Buu.., sakiit", teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik penisku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku. Setelah mulutnya dekat dengan penisku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada payudaranya yang tergantung ke samping.

Setelah beberapa kali kepala penisku dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi mendesis, "sshh.., aaccrr.., oohh", mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu. Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah nikmat bagiku.

Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya. Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik, "Naak Suur.., Ibu juga kepingin punya ibu dijilati", dan sambil kunaiki tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan, "Buu.., apa boleh.., saya lakukan?", dan segera saja ibu menjawabnya, "Nak Suur.., tolong pegang dan jilati kepunyaan ibu.., naak.., ibu sudah lama kepingin di gituin".


 ke Ibu Mertuaku yang Pemarah 01

Gairah Bu RT

Usia Bu Harjono sebenarnya tidak muda lagi. Mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak Harjono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak Harjono cukup dekat. Maklum sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak Harjono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan RT.

Namun berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami itu, jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har (begitu biasanya aku dan warga lain memanggil) sebagai wanita belum kehilangan daya tariknya. Memang beberapa kerutan mulai nampak di wajahnya. Tetapi buah dadanya, pinggul dan pantatnya, sungguh masih mengundang pesona. Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut.

Kisahnya berawal ketika Pak Harjono mendadak menderita sakit cukup serius. Ia masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU (Intensive Care Unit) sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga yang lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantu menemaninya selama suaminya berada di RS menjalani perawatan. Dan aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu.

"Kami bapak-bapak di lingkungan RT memita Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak Harjono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan Mas Rido,?" Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah sakit. Bahkan Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan secara diam-diam menyelipkan uang Rp 100 ribu di kantong celanaku yang katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya.

Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat sibuk. Harus mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan. Mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya. Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak Harjono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang diderita. Maka akibat komplikasi dengan penyakit diabetis yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah.

Menyadari penyakit yang diderita tersebut, yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama, berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar. "Sudahlah bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau beristirahat. Sudah dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har," kataku menenangkan.

Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempatnya mengajar di sebuah SLTP membesuk (oh ya Bu Har berprofesi sebagai guru sedang Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah), ia meminta para pembesuk untuk menunggui suaminya. "Saya mau pulang dulu sebentar untuk mandi diantar Nak Rido. Sudah dua hari saya tidak sempat mandi," katanya kepada rekan-rekannya.

Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat berdesir. Gara-gara mengerem mendadak motor yang kukendarai karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget akibat kejadian tak terduga itu, punggungku terasa tertumbuk benda empuk. Tertumbuk buah dadanya yang kuyakini ukurannya cukup besar.

Ah, pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi dengan sepeda motor yang kukendarai, pikiranku berkelana dan mengkira-kira membayangkan seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul mengingat suaminya adalah seorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di kampungku. Pikiran nyeleneh itu muncul, mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi. Aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS kendati hanya satu kali. Hal itu dilakukan dengan beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas.

Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk ganti. "Jangan lama-lama nak Rido, ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit," katanya.

Dan sesuai yang dipesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju. Langsung masuk ke ruang dalam rumah Pak Har. Ternyata, di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring kecil. Dan mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku untuk menikmati hidangan yang disediakan. "Maaf Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai," suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang.

Tidak terlalu lama menunggu, Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya lewat di dekat ruang makan tempatku minum kopi dan makan kue. Saat itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Betapa tidak, karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, maka tidak cukup sempurna untuk dapat menutupi ketelanjangan tubuhnya.

Ah,.. benar seperti dugaanku, buah dada Bu Har memang berukuran besar. Bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya. Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk yang dikenakanannya tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap mataku. Bahkan ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan ah, .. yang tak kalah syur, ia tidak mengenakan celana dalam.

Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan Bra ukuran 38 atau lebih. Sebagai wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis remaja. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki belalang dengan paha putih mulus miliknya itu, sungguh masih menyimpan magnit. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu Har. Sayang cuma sekilas, begitu aku membatin.

Tetapi ternyata tidak. Kesempatan kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku duduk. Di sana ia mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harus membungkukkan badan karena sulitnya barang yang dicari (seperti ia sengaja melakukan hal ini).

Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke pangkalnya. Paha yang sempurna , putih mulus dan tampak masih kencang. Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya.

Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan? Hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam hatiku. Bahkan terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit.

Dan yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total. Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak tubuhnya. Gairahku jadi kian terbakar kendati tetap kupendam dalam-dalam. Dan perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap ia membutuhkan bantuan. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu ke waktu.

Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit, saat itu hujan terus mengguyur sejak sore hari. Maka orang-orang yang menunggui pasien yang dirawat di ruang ICU, sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU. Maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam ruang ICU. Dan pasien biasanya memanfaatkan teras yang ada untuk tiduran atau duduk mengobrol. Dan malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur jadi menyempit karena pada beberapa bagian tempias oleh air hujan. Sementara aku dan Bu Har yang baru mencari kapling setelah makan malam di kantin, menjadi tidak kebagian tempat.

Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di sana. Awalnya Bu Har menolak, karena posisinya di dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat yang lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam.

"Janji ya Rid (setelah cukup akrab Bu Har tidak mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku), kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli rokok. Soalnya ibu takut ditinggal sendirian," katanya.
"Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi," jawabku.
Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat. Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah meter. Sambil tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal. Dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat lebaran sampai ke soal penyakit yang diderita Pak Harjono. Menurut Bu Har penyakit diabetis itu diderita suaminya sejak delapan tahun lalu. Dan karena penyakit itulah penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan.

"Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki jadi impotensi ya Bu?"
"Kata siapa, Rid?"
"Eh,.. anu, kata artikel di sebuah koran," jawabku agak tergagap.
Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har.
"Rupanya kamu gemar membaca ya. Benar kok itu, makanya penyakit kencing manis di samping menyiksa suami yang mengidapnya juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua," ujarnya lirih.
Merasa tidak enak topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran dalam posisi telentang, setelah rokok yang kuhisap kubuang, mengubah posisi tidur memunggungi wanita itu. Sebab kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengan wanita itu, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Sebab aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku.

"Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut," katanya lirih.
Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, maka saat berbalik posisi tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dada wanita itu. Memang belum menyentuh secara langsung karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seperti anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari perasaan aman pada ibunya.

Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan - karena ku yakin saat itu Bu Har belum pulas tertidur - aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah kembali posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ketat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sampai di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya.

Reaksinya, Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya. Selimut besar dan tebal itu ditariknya untuk dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu selimut. Akhirnya, ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh.

Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya dengan telapak tanganku. Ia menggelinjang, tetapi tidak menolakkan tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan yang memudahkanku menarik ke atas bagian bawah dasternya. Baru ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kuketahui secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku malah dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam.

Seperti keinginanku dan juga keinginannya, telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita itu. Ia mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari bagian luar Bra dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi di bagian bawah telah berhasil menyelinap ke bagian samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, dia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan dasternya. Lalu seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari Bra yang membungkusnya.

Layaknya bayi yang tengah kelaparan mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har. Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita itu. Payudara berukuran besar dan agak mengendur namun masih menyisakan kehangatan.

Sementara Ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas dan meremas penisku yang memang telah mengeras. Kata teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga Ia nampak keasyikkan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku.

"Mau apa Rid,.. jangan di sini ah nanti ketahuan orang," katanya lirih.
"Ah, tidak apa-apa gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar."
Hujan saat itu memang semakin deras.Entah karena mempercayai omonganku. Atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya, ia mau saja ketika celananya kutarik ke bawah. Bahkan ia menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan.

Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan di dalam gelap dan tetap dibalik selimut tebal yang kupakai bersama untuk menutupi tubuh, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Namun berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah. Slep... penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya.

Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di vaginanya. Sementara sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat. Maka ia pun melenguh tertahan, melenguh dan mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima khas dimiliki wanita berpengalaman.

Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitannya, Ia mulai mengimbangi aksiku. Pantat besar besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik turun tubuhku di bagian bawah. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah. Hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasan nikmat yang melambungkan jauh anganku entah kemana. Bahkan sesekali otot-otot yang ada di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang.

"Ah,.. ah.. enak sekali. Terus, ah.. ah,"
"Aku juga enak Rid, uh.. uh... uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan penjang. Auh,.. ah.. ah,"
Sampai akhirnya, aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian membanjir. Nafsuku kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku.
"Aku tidak tahan, ah.. ah.. Sepertinya mau keluar, shhh, ah, .. ah,"
"Aku juga Rid, terus goyang, ya .. ya,.. ah,"

Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendungnya, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita itu. Maniku cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun Ia, setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku. Dan bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan.
"Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat," kata Ia sambil masih tiduran di dekatku.
Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu.
"Ya Maaf,.. soalnya tadi,.."
"Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti itu. Soalnya sejak 5 tahun lebih Pak Har terkena diabetis, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu dan menimbulkan aib diantara kita," ujarnya lirih.

Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya. Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan di kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum kesampaian.

Dan seperti yang dipesankannya, aku berusaha mencoba bersikap sewajar mungkin saat berada diantara orang-orang. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa diantara kami. Kendati aku sering harus menekan keinginan yang menggelegak akibat darah mudaku yang gampang panas saat berdekatan dengannya. Dan sejak itu lokasi teras di belakang kamar mayat menjadi saksi sekitar tiga kali hubungan sumbang kami. Hubungan sumbang yang terpaksa kuhentikan seiring kedatangan Bu Hartini, adik Pak Harjono yang bermaksud menengok kondisi sakit kakaknya. Hanya terus terang, sejak kehadirannya ada perasaan kurang senang pada diriku. Sebab sejak Ia ada yang menemani merawat suaminya di rumah sakit, kendati aku tetap diminta untuk membantu mereka dan selalu berada di rumah sakit, aku tidak lagi dapat menyalurkan hasrar seksualku. Hanya sesekali kami pernah nekad menyalurkannya di kamar mandi ketika hasrat yang ada tak dapat ditahan. Itu pun secara kucing-kucingan dengan Bu Tini dan segalanya dilaksanakan secara tergesa-gesa hingga tetap tidak memuaskan kami berdua.

Sampai suatu ketika, saat Pak Har telah siuman dan perawatannya telah dialihkan ke bangsal perawatan yang terpisah, Bu Tini menyarankan kepada Ia untuk tidur di rumah.
"Kamu sudah beberapa hari kurang tidur Mbak, kelihatannya sangat kelelahan. Coba kamu kalau malam tidur barang satu dua hari di rumah hingga istirahat yang cukup dan tidak jatuh sakit. Nanti kalau kedua-duanya sakit malah merepotkan. Biar yang nunggu Mas Har kalau malam aku saja diteman Dik Rido kalau mau" ujarnya.
Ia setuju dengan saran adik iparnya. Ia memutuskan untuk tidur di rumah malam itu. Maka hatiku bersorak karena terbuka peluang untuk menyetubuhinya di rumah. Tetapi bagaimana caranya pamit pada Bu Tini? Kalau aku ikut-ikutan pulang untuk tidur di rumah apa tidak mengundang kecurigaan? Aku jadi berpikir keras untuk menemukan jalan keluar. Dan baru merasa plong setelah muncul selintas gagasan di benakku.

Sekitar pukul 22.00 malam, lewat telepon umum kutelepon rumahnya. Wanita itu masih terjaga dan menurut pengakuannya tengah menonton televisi. Maka nekad saja kusampaikan niatku kepadanya. Dan ternyata ia memberi sambutan cukup baik.
"Kamu nanti memberi tanda kalau sudah ada di dekat kamar ibu ya. Nanti pintu belakang ibu bukakan. Dan sepeda motornya di tinggal saja di rumah sakit biar tidak kedengaran tetangga. Kamu bisa naik becak untuk pulang," katanya berpesan lewat telepon.
Untuk tidak mengundang kecurigaan, sekitar pukul 23.00 aku masuk ke bangsal tempat Pak Har dirawat menemani Bu Tini. Namun setengah jam sesudahnya, aku pamit keluar untuk nongkrong bersama para Satpam rumah sakit seperti yang biasa kulakukan setelah kedatangan Bu Tini. Di depan rumah sakit aku langsung meminta seorang abang becak mengantarku ke kampungku yang berjarak tak lebih dari satu kilometer. Segalanya berjalan sesuai rencana. Setelah kuketuk tiga kali pintu kamarnya, kudengar suara Ia berdehem. Dan dari pintu belakang rumah yang dibukakannya secara pelan-pelan aku langsung menyelinap masuk menuju ruang tengah rumah tersebut.

Rupanya, bertemu di tempat terang membuat kami sama-sama kikuk. Sebab selama ini kami selalu berhubungan di tempat gelap di teras kamar mayat. Maka aku hanya berdiri mematung, sedang Ia duduk sambil melihat televisi yang masih dinyalakannya. Cukup lama kami tidak saling bicara sampai akhirnya Ia menarik tanganku untuk duduk di sofa di sampingnya. Setelah keberanianku mulai bangkit, aku mulai berani menatapi wanita yang duduk di sampingku. Ia ternyata telah siap tempur. Terbukti dari daster tipis menerawang yang dikenakannya, kulihat ia tidak mengenakan Bra di baliknya. Maka kulihat jelas payudaranya yang membusung. Hanya, ketika tanganku mulai bergerilya menyelusuri pangkal paha dan meremasi buah dadanya ia menolak halus.
"Jangan di sini Rid, kita ke kamar saja biar leluasa," katanya lirih.
Ketika kami telah sama-sama naik ke atas ranjang besar di kamar yang biasa digunakan oleh suami dan dia, aku langsung menerkamnya. Semula Ia memintaku mematikan dulu saklar lampu yang ada di kamar itu, tetapi aku menolaknya. "Saya ingin melihat semua milikmu," kataku.
"Tetapi aku malu Rid. Soalnya aku sudah tua,."

Persetan dengan usia, dimataku, Ia masih menyimpan magnit yang mampu menggelegakkan darah mudaku. Sesaat aku terpaku ketika wanita itu telah melolosi dasternya. Dua buah gunung kembarnya yang membusung nampak telah menggantung. Tetapi tidak kehilangan daya pikatnya. Buah dada yang putih mulus dan berukuran cukup besar itu diujungnya terlihat kedua pentilnya yang berwarna kecoklatan. Indah dan sangat menantang untuk diremas. Maka setelah aku melolosi sendiri seluruh pakaian yang kukenakan, langsung kutubruk wanita yang telah tiduran dalam posisi menelentang. Kedua payudaranya kujadikan sasaran remasan kedua tanganku. Kukulum, kujilat dan kukenyot secara bergantian susu-susunya yang besar menantang. Kesempatan melihat dari dekat keindahan buah dadanya membuat aku seolah kesetanan. Dan Ia, wanita berhidung bangir dengan rambut sepundak itu menggelepar. Tangannya meremas-remas rambut kepalaku mencoba menahan nikmat atas perbuatan yang tengah kulakukan.

Dari kedua gunung kembarnya, setelah beberapa saat bermain di sana, dengan terus menjulurkan lidah dan menjilat seluruh tubuhnya kuturunkan perhatianku ke bagian perut dan di bawah pusarnya. Hingga ketika lidahku terhalang oleh celana dalam yang masih dikenakannya, aku langsung memelorotkannya. Ah, vaginanya juga tak kalah indah dengan buah dadanya. Kemaluan yang besar membusung dan banyak ditumbuhi rambut hitam lebat itu, ketika kakinya dikuakkan tampak bagian dalamnya yang memerah. Bibir vaginanya memang nampak kecoklatan yang sekaligus menandakan bahwa sebelumnya telah sering diterobos kemaluan suaminya. Tetapi bibir kemaluan itu belum begitu menggelambir. Dan kelentitnya, yang ada di ujung atas, uh,.. mencuat menantang sebesar biji jagung.

Tak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan wanita itu, mulailah mulutku yang bicara. Awalnya mencoba membaui dengan hidungku. Ah, ada bau yang meruap asing di hidungku. Segar dan membuatku tambah terangsang. Dan ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat-jilat pelan di seputar bibir vaginanya besar itu, Ia tampak gelisah dan menggoyang-goyang kegelian.
"Ih,.. jangan diciumi dan dijilat begitu Rid. Malu ah, tapi, ah..ah.. ah,"
Tetapi ia malah menggoyangkan bagian bawah tubuhnya saat mulutku mencerucupi liang nikmatnya. Goyangannya kian kencang dan terus mengencang. Sampai akhirnya diremasnya kepalaku ditekannya kuat-kuat ke bagian tengah selangkannya saat kelentitnya kujilat dan kugigit kecil. Rupanya ia telah mendapatkan orgasme hingga tubuhnya terasa mengejang dan pinggulnya menyentak ke atas.

"Seumur hidup baru kali ini vaginaku dijilat-jilat begitu Rid, jadinya cepat kalah. Sekarang gantian deh Aku mainkan punyamu," ujarnya setelah sebentar mengatur nafasnya yang memburu.
Aku dimintanya telentang, sedang kepala dia berada di bagian bawah tubuhku. Sesaat, mulai kurasakan kepala penisku dijilat lidah basah milik wanita itu. Bahkan ia mencerucupi sedikit air maniku yang telah keluar akibat nafsu yang kubendung. Terasa ada senasi tersendiri oleh permainan lidahnya itu dan aku menggelinjang oleh permainan wanita itu. Namun sebagai anak muda, aku merasa kurang puas dengan hanya bersikap pasif. Terlebih aku juga ingin meremas pantat besarnya yang montok dan seksi. Hingga aku menarik tubuh bagian bawahnya untuk ditempatkan di atas kepalaku. Pola persetubuhan yang kata orang disebut sebagai permainan 69. Kembali vaginanya yang berada tepat di atas wajahku langsung menjadi sasaran gerilya mulutku. Sementara pantat besarnya kuremas-remas dengan gemas.

Tidak hanya itu jilatan lidahku tidak berhenti hanya bermain di seputar kemaluannya. Tetapi terus ke atas dan sampai ke lubang duburnya. Rupanya ia telah membersihkannya dengan sabun baik di kemaluannya maupun di anusnya. Maka tak sedikit pun meruap bau kotoran di sana dan membuatku kian bernafsu untuk menjilat dan mencoloknya dengan ujung lidahku. Tindakan nekadku rupanya membuat nafsunya kembali naik ke ubun-ubun. Maka setelah ia memaksaku menghentikan permainan 69, ia langsung mengubah posisi dengan telentang mengangkang. Dan aku tahu pasti wanita itu telah menagih untuk disetubuhi. Ia mulai mengerang ketika batang besar dan panjang milikku mulai menerobos gua kenikmatannya yang basah. Hanya karena kami sama-sama telah memuncak nafsu syahwatnya, tak lebih dari 10 menit saling genjot dan menggoyang dilakukan, kami telah sama-sama terkapar. Ambruk di kasur empuk ranjang kenikmatannya. Ranjang yang semestinya tabu untuk kutiduri bersama wanita itu.

Malam itu, aku dan dia melakukan persetubuhan lebih dari tiga kali. Termasuk di kamar mandi yang dilakukan sambil berdiri. Dan ketika aku memintanya kembali yang keempat kali, ia menolaknya halus.
"Tubuh ibu cape sekali Rid, mungkin sudah terlalu tua hingga tidak dapat mengimbangi orang muda sepertimu. Dan lagi ini sudah mulai pagi, kamu harus kembali ke rumah sakit agar Bu Tini tidak curiga," katanya.
Aku sempat mencium dan meremas pantatnya saat Ia hendak menutup pintu belakang rumah mengantarku keluar. Ah,.. indah dan nikmat rasanya.

Usia Pak Har ternyata tidak cukup panjang. Selama sebulan lebih dirawat di rumah sakit, ia akhirnya meninggal setelah sebelumnya sempat dibawa RS yang lebih besar di Semarang. Di Semarang, aku pun ikut menunggui bersamanya serta Bu Tini selama seminggu. Juga ada Mbak Dewi dan suaminya yang menyempatkan diri untuk menengok. Hingga hubunganku dengan keluarga itu menjadi kian akrab.

Namun, hubungan sumbangku dengannya terus berlanjut hingga kini. Bahkan kami pernah nekad bersetubuh di belakang rumah keluarga itu, karena kami sama-sama horny sementara di ruang tengah banyak sanak famili dari keluarganya yang menginap. Entah kapan aku akan menghentikannya, mungkin setelah gairahnya telah benar-benar padam.*

 
FaceBlog © Copyright 2009 Tentang KIMPET | Blogger XML Coded And Designed by Edo Pranata